7 KARAKTERISTIK PEMIMPIN YANG PERCAYA DIRI DAN RENDAH HATI

Kay Kotan and Phil Schroeder Sumber: https://www.churchleadership.com/leading-ideas/7-characteristics-of-humble-confident-leaders/ (15/9/2019)

Percaya diri adalah hal yang penting bagi pemimpim, tetapi menurut Kay Kotan dan Phil Schroeder, kepercayaan diri dapat dengan mudah meluncur ke arah arogansi. Mereka memberikan tujuh karakteristik, seperti kerentanan, integritas dan inklusivitas, yang mempromosikan sebuah kepercayaan diri yang rendah hati dan seimbang.

Mendemonstrasikan kepercayaan diri adalah sebuah hal positif dan ciri kepemimpinan yang banyak dibutuhkan. Pemimpin yang percaya diri adalah orang yang yakin dan mantap untuk memimpin ke arah misi dan visi. Mereka dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai iman, keyakinan, kredensi dan kepercayaan pada kepemimpinan mereka. Orangorang yang bekerja dengan pemimpin yang percaya diri akan mendapati bahwa pemimpin tersebut adalah orang yang merasa yakin, tenang, seimbang, berani, tegas dan dapat diandalkan.

Namun di sini masalahnya. Terlalu banyak pemimpin begitu penuh percaya diri sampai menjadi arogan. Arogan bukanlah sifat kepemimpinan yang atraktif atau efektif. Arogan menyisakan ruang yang kecil bagi Allah. Arogan secara hurufiah berimplikasi “Saya tidak punya pertanyaan-pertanyaan” – artinya, dia merasa tahu semua. Di sisi lain ada ruang untuk memiliki dosis kepercayaan diri yang sehat tanpa perlu menjadi terlalu percaya diri. Kami menyebutnya sebagai ‘kepercayaan diri yang rendah hati.’ Para pemimpin yang percaya diri namun rendah hati memperlihatkan ciri-ciri sbb.:

1. Pembuat Pahlawan

Para pahlawan dihormati karena perbuatan-perbuatan berani yang mereka kerjakan, prestasi-prestasi khusus dan karakternya yang mulia. Di balik setiap pahlawan sedikitnya ada seorang pembuat pahlawan. Para pembuat pahlawan ini hidup di balik tirai, seringkali tidak bernama, namun dengan setia menerima peran pendukung buat orang lain.

Mereka berusaha membuat para pahlawan yang membuat para pahlawan yang membuat pahlawan-pahlawan. Mereka menginvestasikan diri dalam diri orang lain untuk melihat potensi penuh orang lain dilepaskan ke dalam hidup orang lain. Para pembuat pahlawan tidak butuh menerima pujian. Para pembuat pahlawan mendapatkan sukacita dalam melengkapi dan mengutus orang lain keluar untuk melakukan pekerjaanpekerjaan besar yang Allah ciptakan mereka untuk lakukan.

2. Kerentanan

Para pemimpin yang percaya diri namun rendah hati adalah pemimpin yang rentan (vulnerable). Mereka tidak takut gagal. Mereka tahu bahwa dalam menjadi rentan untuk mencoba hal-hal baru, langkahlangkah baru dan tepat untuk maju ke depan akan dikenali dan berhasil diimplementasikan. Menjadi rentan berarti percaya sepenuhnya kepada kemungkinan-kemungkinan. Kerentanan membutuhkan kepercayaan diri, tetapi kalau orang menjadi terlalu percaya diri kerentanan bisa berubah menjadi kenekatan-kesemberonoan. Kerentanan berarti mengetahui bahwa diri sendiri tidak memiliki semua jawaban dan merasa aman bahwa ia adalah orang yang demikian – sehingga tidak perlu ditutup-tutupi atau disamarkan.

Tahu bahwa ketegasan dituntut untuk menjadi pemimpin yang efektif bahkan ketika seseorang bisa gagal adalah hal yang memimpin kita kepada kepercayaan diri yang rendah hati dengan kerentanan. Memiliki dosis kerentanan yang sehat merupakan kelengkapan yang penting dari seorang pemimpin yang berkompeten. Seorang pemimpin tidak harus punya semua jawaban tetapi bersedia untuk menjadi rentan kepada risiko dalam proses penemuan jawaban.

3. Integritas

Seorang pemimpin yang rendah hati dan percaya diri adalah seseorang yang berintegritas penuh. Integritas berarti menjadi orang yang dapat dipercayai dan yang menampilkan etika, moralitas dan keberhargaan. Integritas berarti melakukan hal yang benar bahkan ketika orang lain tidak melihat. Integritas mencerminkan seseorang memiliki sebuah kompas moral. Kebanyakan orang ingin dilihat sedang menampilkan integritas. Tetapi sejumlah orang tidak memiliki kesadaran diri terkait apakah mereka memiliki atau tidak memiliki integritas itu. Sederhananya, orang tidak tahu apakah Anda benar-benar punya integritas sampai Anda diuji.

4. Keterbukaan (Inklusif)

Para pemimpin yang rendah hati dan percaya diri adalah orang-orang yang inklusif, yang memastikan bahwa semua suara anggota timnya didengarkan. Mereka tahu bagaimana memasukkan setiap orang, tidak peduli apa jenis kelamin, etnis, agama atau latar belakang ekonominya. Kemampuan nyata untuk memasukkan dan berdiri membela hak setiap orang untuk didengarkan dan dipertimbangkan adalah hal yang membedakan mereka yang hidup dalam ketakutan dari mereka yang berdiri membela kebebasan dan keadilan.

Seorang mentor yang bijaksana pernah mengajar saya agar memakai waktu-waktu di sela-sela rapat-rapat dan seminar-seminar untuk membuat satu atau dua orang menemui satu atau dua orang lain mendiskusikan hal-hal yang sedang dibahas. Anda akan mendapatkan arus informasi yang lebih kaya ketika Anda mengundang orang berbicara satu sama lain selama pertemuan. Hal-hal yang dibiarkan tidak dikatakan dapat dibawa ke dalam ruangan percakapan selama pertemuan; dan itu lebih baik daripada sesudah rapat dibawa ke lapangan parkir.

5. Selebrasi (Perayaan)

Para pemimpin yang rendah hati namun percaya diri merayakan bersama-sama timnya. Karena para pemimpin demikian adalah para pembuat pahlawan, mereka cepat sekali mengangkat kontribusikontribusi orang lain dan merayakan prestasi-prestasi orang lain. Mereka cepat sekali menyalakan lampu sorot kepada orang lain. Pujian atas prestasi dan pencapaian tujuan diberikan kepada tim – bukan kepada dirinya. Selebrasi adalah kunci dari upaya untuk mengendus wangi mawar dan memberikan pujian demi menciptakan sebuah kerja sama tim yang kolaboratif.

6. Rendah Hati (Humility)

Kita semua sedang berada di perjalanan mencintai Allah dan sesama kita, dan tak satupun dari antara kita yang sudah tiba di tujuan itu. Kita semua sedang berada di jalan yang sama untuk mengenal Allah dan mengenal pikiran Allah (Rm 11:34), serta mengenali saudara atau saudari kita atau musuh kita. Setelah menyangkali Yesus tiga kali, Petrus tumbuh menjadi pemimpin yang rendah hati namun percaya diri di sepanjang kitab Kisah Para Rasul. Saya belum tiba pada kedewasaan atau pengenalan yang penuh. Saya belum sampai di sana. Saya percaya Allah masih punya sesuatu (banyak hal ) untuk mengajar saya.

Kenapa ini penting sekarang ? Kerendahan hati yang sejati memberi kita suatu jalan kepada hidup dengan hati nurani, di tengah -tengah orang lain yang melihat masalah -masalah iman, ibadah dan keadilan secara berbeda. Kita menyebut ini gereja, tubuh Kristus, yang dua -duanya adalah satu dan beraneka ragam (1 Korintus 12:14 ).

7. Gagah Berani

Para pemimpin yang percaya diri namun rendah hati adalah para pemberani. Mereka tidak menghindar dari membuat keputusan -keputusan sulit. Mereka ada di depan untuk memimpin inovasi. Mereka tidak takut gagal. Pemimpin yang percaya diri dan rendah hati mampu secara efektif menseimbangkan risiko dan upah.

Mereka juga mendorong anggotaanggota timnya untuk berbuat hal yang sama. Para pemimpin yang rendah hati dan percaya diri mendukung inovasi dan mengambil risiko dalam tim mereka. Mereka siap untuk menjadi jaring pengaman ketika orang -orang dalam timnya gagal, sambil juga mendorong mereka untuk bangun dan mencoba lagi. Para pemimpin yang hebat adalah pemimpin -pemimpin yang berani, yang juga mendorong keberanian serupa dalam diri para pemimpin lainnya.

Disarikan dari buku Launching Leaders (Market Square Books, 2019) karangan Kay Kotan and Phil Schroeder

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *